Bule Tembak Kepala Sendiri Punya Sakit Stroke

Infodua.com – Denpasar, Kematian bule Jerman Ronald Praster (82) tinggalkan duka yang dalam buat keluarganya. Sebelum meninggal dengan luka tembak di kepalanya, Praster barusan pulang dari rumah sakit.

Baru sebulan ini, Praster teratur rawat jalan di Rumah Sakit. Seputar pertengahan bulan inilah divonis sakit stroke mudah.

“Kita pulang dari RS sekitar jam 18.00 Wita, pulang dari situ saya masih ngasih obat, ganti baju, saya bilang jangan tidur dulu supaya nanti gak malam-malam bangun. Ia mungkin ada tonton TV kira-kira satu jam, saya masih dengar radio dengan musik di kamar sebelahnya. Pas ada rasa pengin keluar kontrol bapak ia sudah tergeletak, berteriaklah (saya),” papar istri Praster, Ni Wayan Beji Astuti saat didapati di tempat tinggalnya Jl Sekuta, Sanur, Bali, Jumat (30/11/2018).

Wayan masih tetap tampak syok dengan kepergian suaminya itu. Matanya masih tetap tampak sembab, ia ikut tidak dapat menceritakan dengan jelas.

Wayan menjelaskan sampai kini suaminya itu tidak sempat merintih masalah sakitnya. Ia sendiri mengakui bingung dari tempat mana asal senjata api yang dipakai suaminya bunuh diri itu.

“Kalau pistol saya gak tahu caranya dia, kapan dapetnya kita tidak tahu, si Udhi (anak bungsunya) juga kaget kok ada senjata,” terangnya.

Wayan ikut mengakui tidak dengar nada tembakan atau bising waktu suaminya nekat bunuh diri.

“Saya tidak dengar juga,” katanya sekalian tercekat.

Saat sakit stroke mudah, suaminya itu memang alami masalah bicara. Bicaranya tidak jelas serta cuma dapat ajak terlibat perbincangan bahasa Jerman.

“Sudah sakit begitu bapak pas diperiksa dokter dada sakit gak pak, ditranslate pakai Ponsel ia katakan tidak. Saat sakit ini bahasa Jerman, tidak keluar bahasa Inggrisnya,” jelas ibu dua anak itu.

Ia kembali kenang suaminya menjadi figur yang bukan pemarah, tiap-tiap ada saudara hadir tentu Praster sapa. “Gak pemarah pokoknya, ada saudara datang ia senang, ‘Halo’,” katanya.

Ipar Praster, I Nyoman Kartika mengaku saat sakit kakanya itu telah jarang bicara. Karena susah untuk mengungkapkan ataupun mengerti apakah yang dimaksud kakaknya itu.

“Jadi semenjak sakit itu orangnya lebih pendiem, minder mungkin ya gak nyambung, karena anak aja diajak omong juga gak ngerti. Padahal udah saling diajak ngobrol bahasa Jerman tetapi gak jelas, pas di rumah sakit pakai isyarat kalau mau ngomong,” terangnya.

Sekarang pihak keluarga masih tetap menanti penyidikan di kepolisian. Mereka mengharap jenazah Praster dapat selekasnya pulang serta dikremasi.

“Dari keluarga belum rembug tetapi maunya bapak dikremasi. Cuma masih nunggu dari keputusan kepolisian, karena orang Hindhu mau kremasi juga ada hitungan hari baiknya kan. Kalau kita sih maunya secepatnya agar bapak tidak kelamaan,” katanya.

Jenazah Praster itu diketemukan bersimbah darah di kamarnya dalam kondisi telungkup, Kamis (29/11). Ia terluka dibagian alis mata kiri serta di seputar tempat diketemukan senpi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *